Absennya “The Cathedral”, Sirkuit Paling Legendaris, Tempat Suci Para Pembalap   

Sirkuit Assen Belanda. Foto: motogp.com

Berita terbaru dari Dorna adalah dengan dibatalkannya 3 seri di Eropa yakni Jerman, Belanda dan Finlandia. Jadi tiga negara ini tahun ini tidak akan menggelar balap MotoGP, jadi bukan ditunda namun dibatalkan sama seperti seri Qatar lalu. Pembatalan ini lebih banyak dikarenakan dampak virus yang memang belum sepenuhnya berakhir di 3 negara tersebut dan pemerintahnya juga melarang untuk ada kegiatan besar hingga waktu yang belum di tentukan. Dorna dengan sedih dan berat hati akhirnya membatalkan balapan di 3 negara tersebut.

Dari tiga sirkuit yakni Sachsenring, Assen dan KymiRing tersebut yang paling disayangkan adalah pembatalan di TT Assen, Belanda. Assen adalah tanah suci bagi para pembalap manapun, semuanya ingin selalu berlaga di lintasan yang legendaris tersebut. Bagi para pembalap, Assen adalah sirkuit penting dan menjadi agenda yang harus di ikuti, sayang tahun ini harus absen tidak menggelar MotoGP.

Assen GP 1983 balapan masih digelar hari Sabtu. Foto: motogp.com

Bukan rahasia lagi jika balapan di TT Assen adalah salah satu balapan yang wajib di ikuti dan di tonton. Balapan yang paling banyak dinanti baik pembalap maupun penonton. Di sini, balapan bak cerita dongeng yang terus didengungkan dari waktu ke waktu. Tingkat sakralnya tinggi dan banyak cerita luar biasa berasal dari sirkuit ini. Sejarahnya sangat panjang dan tidak pernah absen sekalipun sejak pertama kali diadakannya balapan Grand Prix, hingga akhirnya pada tahun 2020.

Sejak tahun 1949 balapan sepeda motor (GP) sudah ada di sirkuit yang terletak di Belanda bagian utara ini, awal ada balap lokal sejak 1925. Tempatnya terletak di daerah bernama Drenthe, trek membentang lebih dari 20 kilometer sebelum akhirnya diperbaiki pada tahun 1955 dan hanya menjadi 7 kilometer. Sejak itu sirkuit terus mengalami perubahan dan telah berkembang selama bertahun-tahun hingga bentuknya saat ini, setelah ada perubahan terakhir pada tahun 2006.

BACA JUGA  Yamaha dan Rossi Gagal Tes Di Austria Gara-Gara Virus
Sejak pertama ada GP, sirkuit Assen selalu menggelar balapan, baru tahun 2020 ini pertama kali absen. Foto: motogp.com

Banyak hal istimewa dan legendaris yang tercipta di sirkuit ini. Pertama adalah pemenang terbesar, saingannya Umberto Masetti yakni Geoff Duke pada 1950-an, hingga kini para juara di era modern seperti Valentino Rossi dan Marc Márquez, serta Jorge Lorenzo. Semuanya setidaknya pernah menang sekali dalam kategori kelas yang mereka ikuti di sirkuit yang sering di sebut sebagai “Katedral”.

Balap TT Assen 1938. Foto: motogp.com

Banyak sekali legenda balap yang telah muncul pada balapan yang digelar pada hari Sabtu tersebut. Jika mengikuti balap sejak era terdahulu maka para pembaca mesti tahu jika balapan di Assen diadakan hari Sabtu karena hari Minggu khusus untuk pergi ke gereja. Namun sejak tahun 2015 balapan mengikuti seri-seri yang lain dimana dilangsungkan pada hari minggu. Tradisi balapan hari Sabtu yang sudah terjadi selama puluhan tahun ini memiliki asal-usul yang berhubungan dengan agama. Dulu pada saat ada balapan pertama kali di wilayah tersebut, pihak berwenang tidak ingin para penonton kesasar dan malah menonton balapan ketika seharusnya pergi ke gereja. Ada sebuah rumah ibadah yang tak jauh dari tempat balapan tersebut maka diputuskan balapan sehari sebelum acara rutin ke gereja.

BACA JUGA  Ini Kata Sohib Kental Valentino Rossi Soal Masa Depannya di 2021
Lay Out Sirkuit Assen. Foto: motogp.com

Sayangnya tradisi balapan pada hari Sabtu tersebut sudah tidak ada lagi namun yang pasti justru ketika balapan dipindah pada hari minggu pendapatan uangnya lebih banyak dan jalannya balap lebih istimewa. Seperti halnya di Suzuka, Jepang, para pembalap tuan rumah bisa tampil bagus, begitu juga di Assen dimana para pembalap asal Belanda sering memberi kejutan disetiap balapannya. Pada tahun 1968, mendiang Paul Lodewijkx berhasil memenangkan Kejuaraan 50cc yang mesinnya justru dibangun oleh teman-temannya sendiri. Sejak saat itu nama-nama local hero sering muncul seperti Wil Hartog dan Jack Middelburg di kelas 500cc, pada tahun 1977 dan 1980. Yang terbaru tidak lain adalah Hans Spaan dalam kategori 125cc, pada tahun 1989.

Assen juga istimewa karena balapan dan tontonannya terjamin seru dan berkualitas. Tapi juga banyak hal aneh yang menandai sejarah di sirkuit ini. Pada Grand Prix 1992, Wayne Rainey harus tidak bisa balapan karena terjatuh dan cidera. Mick Doohan mengalami nasib yang sama setelah kualifikasi, jatuh dengan cara tragis. Kemudian Eddie Lawson yang berhasil mendapatkan Pole Position dan di favoritkan juara malah gagal finish. Alex Crivillé berhasil memulai comeback gilanya, seperti yang dilakukan John Kocinski. Pertempuran yang hebat terjadi hingga bendera finish.

Di era modern ini pada tahun 2013, Valentino Rossi berhasil memenangi balapan disini yang merupakan kemenangan pertamanya sejak terakhir menang tahun 2010. Dan ada juga Jorge Lorenzo yang berhasil finish ke 5 dengan tangisan dan air mata setelah dia balapan dengan kondisi cidera patah tulang selangka tiga hari sebelumnya. Momen-momen inilah yang tak terlupakan yang terjadi di sirkuit Assen.

BACA JUGA  Walikota Jerez Ingin Adanya Penonton Saat MotoGP Seri Perdana dan SBK Juga
Dulu tahun 1950 an jalur sirkuit sejauh 298 Km lebih dan balapan bisa 2 jam lamanya. Foto: motosport magazine

Tak bisa juga melupakan kisah balapan pada tahun 2016, dimana balapan dimenangi oleh pembalap Australia, Jack Miller dalam cuaca hujan deras. Itu merupakan hal spesial buat Miller karena merupakan podium juara pertamanya di kelas MotoGP hingga ia beraksi dengan meminum air dari sepatu balapnya (Shoey) di podium. Kita juga ingat tahun 2006 ketika Colin Edwards jatuh ditikungan terakhir sebelum finish, padahal saat itu masih memimpin di balapan Assen. Atau juga kejadian adu otot antara Valentino Rossi dan Márquez pada 2015.

Begitu banyak momen yang penting dalam setiap balapan di Assen hingga membuat penonton selalu deg-degan melihatnya. Assen adalah salah satu sirkuit di mana tingkat emosi kita akan di aduk-aduk, baik itu anda menonton langsung disirkuit bergaya Old School ini ataupun bagi anda yang melihatnya dari TV di rumah. Sirkuit “Katedral” dan tempat suci ini jarang memberikan tontonan yang mengecewakan dibanding sirkuit lainnya. Disini para Legenda di cetak dan mitos selalu diingat. Satu hal yang pasti, tidak ada sirkuit di dunia yang dapat menggantikan bagian dari sejarah olahraga ini. Sayang tahun ini kita tidak bisa melihat aksi para pembalap di TT Assen, mungkin tahun depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here