Apa yang Dirasakan Pembalap Top MotoGP saat Akan Start Balap

Starting Grid MotoGP. Foto: motogp.com

OTOSPORTIF – Semua pembalap akan menjalankan runtinitasnya pada seri perdana di Jerez 19 Juli nanti. Setelah lama libur apakah mereka masih ingat dengan perasaan atau hal-hal yang ada dalam pikiran ketika sesaat sebelum start di grid.

Tentu lama libur tensi ketat yang mereka rasakan saat sedang menunggu lampu hujai menyala sudah mulai tidak ingat. Namun artikel ini menanyakan bagaimana perasaan mereka saat menunggu lampu tanda start itu menyala.

Olahraga terutama terdiri dari emosi dan beberapa menit sebelum pertempuran mulai menaikkan adrenalin, baik di grid, di tribun penonton ataupun di TV. “Sensasi kuat yang menyelimuti kita seperti narkoba, semakin anda banyak memakai, semakin anda menyukainya. Dan ketika berhenti itu akan lebih susah,” kata Joan Mir.

Ada orang-orang yang berbicara dengan mekanik di grid untuk berbicara tentang strategi terbaik, ada juga mereka yang lebih suka diam untuk menemukan lebih banyak konsentrasi.

BACA JUGA  Dorna Bimbang Akan Terus Atau Batalkan MotoGP 2020, Mengapa?

Masing-masing dengan ritual atau kebiasaan berbeda, ini untuk menghadapi suasana hati yang campur aduk. Saat-saat yang tak terlupakan itu akan kita lihat segera di Jerez GP.

“Saya punya dua atau tiga trik untuk masuk ke mode balapan,” kata Marc Marquez kepada DAZN. “Saya tidak pernah melepas topi karena saya suka diam. Dan sebelum saya mulai, saya mencoba membayangkan seperti apa awal dan tikungan pertama itu.”

Gaya khas Rossi saat mau balap. Foto: motogp.com

Valentino Rossi menggarisbawahi emosi yang campur aduk sebelum memulai. The Doctor dikenal berjongkok dan berbicara dengan motornya.

“Ketika anda berada di grid ada ketegangan, konsentrasi dan kegembiraan. Ini adalah adrenalin positif. Ini sangat indah namun juga buruk. Pada dasarnya ini adalah waktu yang sangat buruk karena tidak akan terasa enak, anda tidak akan tenang,” kata Valentino Rossi.

BACA JUGA  Ini Tanggapan Rossi Setelah Dikritik Pedas Oleh Bos Petronas

“Tetapi saya yakin bahwa ketika anda tidak menjalaninya, anda akan melewatkannya. Tentu saja, ada sedikit ketakutan untuk melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang berbahaya. Pada akhirnya kita bersaing untuk apa yang kita rasakan pada saat itu,” tambahnya.

Sementara Andrea Dovizioso lebih berusaha untuk membuat ketenangan batin di dalam dirinya, itu dilakukannya setelah membahas rincian teknis terakhir.

“Saya mencoba mengendalikan situasi. Dari detail terkecil untuk diputuskan bersama para teknisi. Jika ada pilihan aneh pada ban, penting untuk mengetahui apa yang telah diputuskan oleh pengemudi lain. Dan pola itu sangat mendasar. Ketika semuanya jelas, saya tetap lebih tenang dan lebih santai,” ungkap Dovi.

Pol Espargaro, di sisi lain menunjukkan aspek negatif dan positif dari momen itu sebelum dimulainya balapan MotoGP. “Segala sesuatu menghilang, bahkan jika lengan atau kaki sedang sakit, maka rasa sakit itu akan hilang.” Kata Pol Espargaro.

BACA JUGA  Bos Suzuki Ingin Tiru Langkah Honda Kepada Pembalapnya, Apa Itu?  

“Anda tidak memperhatikan nafas anda, bukan detak jantung Anda. Terkadang anda merasa ingin muntah, itu adalah hal yang mengerikan. Tetapi ketika anda sudah berada di rumah, yang anda inginkan adalah merasakan sensasi itu lagi. Ketika orang-orang mulai pergi dan anda sendirian dengan menunggu lampu menyala dan para saingan anda juga tidak memikirkan apa pun maka itu tandanya anda sangat terkonsentrasi,” jelasnya.

Sedangkan Fabio Quartararo yang akan membalap musim keduanya di MotoGP mencoba mengalaminya momen tersebut dengan lebih santai. “Sebenarnya, saya suka sangat santai dan mencoba untuk berbicara. Jangan terlalu terkonsentrasi, karena jika saya melakukannya saya menjadi sangat gugup. Saya ingin menikmati bagian mekanik sampai saat terakhir dan ketika saya memakai helm saya beralih ke mode siap balapan,” kata Fabio.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here