Digital Marketing Prioritas Utama Toyota, Adakah SUV LCGC Tahun Ini?  

Diler Toyota

Toyota di Indonesia menganggap penting berjualan secara digital produk-produk mereka khususnya di masa pandemik ini. Forum Wartawan Otomotif (Forwot) berkesempatan melakukan tanya jawab dengan Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy, yang dilakukan secara virtual tentunya. Berikut rangkuman wawancaranya:

Forwot: Tren SUV dan MPV di Indonesia Pasca Pandemi akan ada perubahan atau dengan budget yang terseisa saat ini konsumen bakal beralih ke mobil dengan harga lebih murah

Anton: Memang situasi Covid-19 ini memang baru terjadi satu dua bulan ini. Jadi memang situasi masih sangat dinamis, tapi kita lihat memang pada umumnya demand konsumen, nggak saja ke model MPV dan SUV tapi lebih ke arah Seven Seater. Mobil dengan kapasitas lebih dan Utility ini tetap menjadi demand dari konsumen di masa masa covid ini.

Tapi memang yang kita perhatikan tidak hanya di masa covid tapi beberapa tahun belakangan ini model atau stlyling SUV sepertinya menjadi salah satu permintaan dari pasar juga. Memang saya rasa tidak hanya Toyota tapi merek-merek lain juga dan tidak hanya Indonesia tapi di seluruh dunia. Model atau desain SUV semakin gencar di perkenalkan dan juga di terima dengan baik oleh pasar.

Avanza masih jadi tulang punggung penjualan Toyota. foto: TAM

Forwot: Berarti incaran konsumen ke 7 Seater?

Anton: 7 Seater dulu kalau saya lihat iya, tetapi 7 seater seperti apa. Itu macam-macam dengan modelnya, jadi selain 7 seater yang sepeti biasanya di MPV 7 seater yang SUV pun rasanya demandnnya meningkat. Jadi kalau kita lihat seperti Rush, penjualanya sangat meningkat di dua tahun belakangan ini. Itu salah satunya karena memang demand dari 7 seater SUV itu tinggi. Di luar memang SUV sendiri demand nya meningkat di seluruh dunia, jadi memang dua kombinasi ini.

Forwot: Trennya sekarang ini MPV di paksa menjadi SUV sedangkan genetikanya sebenarnya agak ‘semi-semi’. Sebenarnya pasar ini mau ke arah mana dengan adanya SUV yang semi MPV, akan beratahan atau seperti apa?

Anton: Ini namanya tren, kita mungkin kembali ke masa muda kita dulu, jaman dulu itu tahun 90-an saya masih ingat model mobil itu cuma dua saja satu kijang satu lagi sedan. Dua saja sih nggak ada model yang lain, pada saat itu orang tahunya dua model itu. Tapi pada tahun 2000-an memang mulai banyak atau mulai marak desain-desain model yang baru.

Pada saat itu sempat lah hatchback kalaupun dulu pernah ada Starlet,  tahun 2000-an hatchback itu sempat mencuri perhatian karena penjualannya juga meningkat tajam, waktu itu ada Jazz dan Yaris misalnya. Itu sempat mencuri perhatian walaupun SUV pada saat itu sudah mulai muncul, tapi perlu kita ingat memang SUV pada saat itu mayoritas adalah SUV kelas high.

Waktu itu ada X-trail, CR-V, dan Fortuner, dan modelnya pun belum terlalu banyak. Nah sekarang belakangan ini 2010 atau 2015-an kesini memang SUV model nya semakin banyak dan SUV ini tidak hanya model tapi fungsionalitasnya juga semakin meningkat. Jadi kalau bahasanya ada mesin hybrid, ini juga desain atau model atau konsepnya pun jadi hybrid. Bisa menggabungkan antara kebutuhan dari 7 seater atau utilitas dengan desain dari SUV yang memang lebih sporty atau lebih stylish. Tren selalu berubah, kedepannya seperti apa, saya rasa mungkin beberapa tahun belakangan ini masihlah tetap SUV tetap menjadi salah satu tren.

Sebenarnya kalau kita katakan desain itu memang relatif. Saya pernah ingat diskusi denga teman-teman (orang Jepang) di Jepang. Mereka kalau lihat desain Kijang Innova itu pada bingung sebenarnya ini mobil apa. Karena di Toyota kalau di lihat, saya pernah ngobrol dengan Chief Enginner MPV Toyota, Toyota di seluruh dunia itu yang namanya MPV itu modelnya biasanya Alpard, Voxy. Bentuknya gede-gede dan sliding door serta mengotak.

Tapi Innova ini sebenarnya MPV atau Crossover atau apa gitu ya, jadi sebenarnya yang kita sebut dengan MPV di Indonesia sebenarnya tidaklah murni MPV, sudah MPV yang disesuaikan dengan kebutuhan orang Indonesia. Maunya MPV tapi modelnya juga jangan terlalu kotak, kecuali di segmen medium high dan luxury, yang kotak ini yang diterima oleh pasar jadi memang agak berbeda.

Toyota Rush

Forwot: Bagaimana Penjualan Toyota

Anton: Jadi kalau dari sisi retail sales sebenarany sampai. saya jelaskan bulan April dulu, jadi di bulan April 2020 penjualan Toyota itu 8.443 unit, marketnya adalah 24.276 unit, jadi market share Toyota di bulan April untuk retail adalah 34,8 persen. Kalau dibandingkan dengan Januari sampai April penjualan kita di Toyota sudah mencapai 75.42, unit Marketnya adalah 243 unit sekian, market sharenya kira-kira mendekati 31 persen, jadi memang unik di bulan April ini, kita melihat market share Toyota meningkatnya cukup tajam.

Kalau data yang SUV dan MPV, Avanza market share di kelas MPV low sampai bulan April 35,5 persen, kalau kita bandingkan penjualannya retail salesnya sampai April 17.894 unit, jadi posisi Avanza masih nomor satu.

Kemudian MPV lain yang cukup besar Calya itu posisi juga masih nomor satu dengan market share 49,8 persen kemudian Innova ini tetap nomor stau juga market sharenya 98,2 persen, itu tiga MPV utama. Kalau SUV, Rush itu juga masih nomor satu 37,6 persen kemudian Fortuner ini juga nomor satu dengan market shre 31,7 persen.

BACA JUGA  Varian Andalan Toyota di GIICOMVEC 2020

Forwot: Tapi kalau lihat angka-angka, polanya masih sama dari dulu sampai sekarang Avanza, Calya, Rush dan Fortuner?

Anton: Model-model utama, tapi kalau kita lihat mungkin 5 tahun yang lalu agak berbeda, misalkan Rush dulu kan penjualannya ngak sampai 2.000 perbulan, sebelum covid, kalau setelah ada covid marketnya agak turun, Rush penjualannya di atas 4.000-an perbulan, jadi memang kita melihat ada tren juga ke arah yang SUV.

Toyota RAV4 akankah masuk Indonesia tahun ini?

Forwot: Secara global model SUV Toyota itu kan banyak, salah satu SUV Toyota yang populer di dunia itu adalah RAV4. Kenapa RAV4 sampai sekarang tidak atau belum masuk ke pasar Indonesia, pertimbangannya apa? Karena kalau menurut data OICA, tiga mobil terbanyak di dunia pada tahun 2018 ada RAV4 salah satunya, selain sedan Corolla.

Anton: Saya pikir ngak cuma RAV4 tapi semua produk baru semua produk line up itu pasti kita pelajari produk apapun. Tentu saja yang kita pelajari bukan produk yang kita masukkan tapi kebutuhan dari Indonesia kira-kira seperti apa sih buat masyarakat dan Market Indonesia. Kemudian kedua, setelah dari kebutuhan masyrakat itu kita bicarakan dengan prinsipal bagaimana dengan produk avalibity nya, apakah itu dari produksi dari Indonesia atau mungkin region, termasuk Thailand atau mungkin di bawa dari Jepang.

Setelah kita mengetahui kebutuhan dari konsumen dan avability dari produk pastinya kita kawinkan dan kita coba cek apakah memang demandnya atau kebutuhan ini memungkinkan nggak untuk kita perkenalkan. Tentu saja utuk memperkenalkan satu produk itu walaupun jumlahnya sedikit persiapannya cukup banyak. Mulai kita persiapkan dari bengkel, mekaniknya dan spare part Juga kita harus sediakan komunikasi promosinya, pendidikan dari front line kita dan lain-lain, jadi investasi dari perkenalan satu produk itu cukup besar.

Terus terang saja di Indonesia line up Toyota sudah sangat banyak jadi sekarang memang tugas kita selain melihat produk-produk baru mana yang bsia kita perkenalkan. Kemudian meriview juga produk-produk yang sudah ada ini bagaimana pengembangannya dan bagaimana penetrasinya di pasar. Jadi kombinasi dari studi itu, dan memang pada sat ini RAV4 belumlah menjadi salah satu produk yang kita masukkan di Indonesia berdasarkan dari studi tadi. Tapi tidak menutup kemungkinan, akan kita perkenalkan kalau memang cocok.

Melihat pangsa pasarnya, dengan size dan harga segitu kita juga ada Fortuner. Nah Fortuner secara demand dan juga kebutuhan memang masih menjadi kebutuhan yang lebih besar kalau kita bandingkan dengan RAV4.

Forwot: Soal Pandemi, ada beberapa pendapat dari para ahli industri yang menyoal global suplay chain ternyata di saat pandemi ini bermasalah. Misalnya katakanlah Indonesia pusat MPV, terus di negara lain Toyota misalnya, di Thailand pusat sedan, tapi karena ada pandemi ini terganggu sehingga model SUV dari negara lain ngak bisa masuk Indonesia karena pandemi, Nah menurut pak Anton sendiri global suplay chain ini bagamana bisa normal di masa mendatang?

Anton: Kita juga mempelajari dan setuju memang normal banyak hal, mulai dari konsumenikasi dengan konsumen, produksi dan lain-lain. Kalau negara lain saya tidak bisa jawab,tapi setidaknya untuk Indonesia mungkin saya bisa jawab sedikit. Bahwa strategi Indonesia untuk Toyota terutama Toyota Group. Kita disini kan industri jadi kalau kita bicara industri memang bagaiman supaya Indonesia ini menjadi pusat produksi dari produk-produk Toyota dan tidak hanya MPV tapi kita juga ada SUV dan lain-lain seupaya memenuhi sebagain besar dari kebutuhan Toyota di Indonesia dengan menggunakan produk lokal.

Kebetulan Toyota majoritynya produk kita kebanyakan produk lokal jadi kalau sampai terjadi masalah di sedan misalnya, kita kesulitan mengimpor CBU dari Thailand atau Jepang sebenaranya impact volumenya nggak besar. Contohnya mungkin kalau Camry, Corolla, Hilux, di gabung-gabung dengan Hi Ace dan mungkin juga Alphard itu jumlahnya mungkin paling sekitar 10 persen dari total penjualan. Kita masih punya 90 persen penjualan kita datang dari produk lokal.

Demikian juga dengan komponen, jadi komponen itu pun sebenarnya tingkat lokalisasi menjadi kunci. Nah bagaimana kedepannya lokalisasi dari part-part ini, karena memang beruntungnya Indonesia volumenya cukup besar. Kemudian kita juga punya pangsa ekspor, jadi kedepan memang potensi untuk mendapatkan lokalisasi produk juga semakin lama semakin tinggi juga. Mungkin demikian gambarannya situasi suplay chain, jadi ngak perlu khawatir di kondisi ini. Saya rasa sampai beberapa bulan kedepan suplay dari Toyota rasanya masih aman karena memang kebanyakan produk-produk kita adalah produksi di Indonesia. Kedepannya dengan adanya lokalisasi ini maka Indonesia menjadi salah satu pilihan bagi Toyota unutk berinvestasi.

Toyota Elektrifikasi

Forwot: Line UP 7 Seater baru ada Alphard yang hybrid, ada yang lain nggak nanti?

BACA JUGA  Suzuki Optimalkan Layanan Home Test Drive Ketika Permintaan Semakin Meningkat

Anton: Toyota itu kan sudah komit ke pemerintah, saya rasa sudah beberapa pemberitaan sudah kita tampilkan juga bahwa Toyota memang sudah sepakat dengan pemerintah kita akan menjadi salah satu player atau industri yang akan serius masuk ke elektrifikasi termasuk produk-produk hybrid.

Jadi sebenarnya sudah ada komitmen dari Toyota ke pemerintah untuk melakukan investasi dan salah satunya sudah disebut, untuk produk-produk elektrifikasi termasuk hybrid. Tapi memang pada saat ini saya belum bisa ngomong sebenarnya produknya apa dan juga kapan, karena ini kan bagian dari strategi dan juga bagian dari persiapan prinsipal. Tapi mudah-mudahan tentu saja produk-produk yang kedepannya elektrifikasi adalah produk-produk yang sesuai dan juga bisa masuk ke pangsa pasar Indonesia selain juga ekspor.

Forwot: Tren SUV dan MPV pasca Covid, mungkin dalam satu dua bulan ini mungkin belum terlalu kelihatan karena semuanya turun, katakan lah covid ini selesai Agustus misalnya, Apakah tren SUV dan MPV ada pengaruh atau alternatif ketiga soal LCGC?

Forwot: Kalau kita lihat lagi dari tren SUV dan MPV seperti yang saya katakan tadi selama tren ini berjalan selama 2 tahun belakangan. Jadi apakah covid atau setelah covid, saya rasa SUV tetap berkembang, walaupun perkembangannya tidak pesat seperti sebelum-sebelumnya.

Bagaimana pun kebutuhnan model-model seperti Avanza atau MPV tetap banyak, jadi saya kasih contoh selama covid ini, penjualan Toyota kenapa market share nya juga masih bisa naik di bulan April. Karena demand dari mobil-mobil rental atau fleet company itu masih tetap banyak dan kebanyakn kebutuhan dari model-model fleet ini mereka tidak melihat style atau model, Mereka melihat lebih banyak ke fungsi dan value for money oleh karena itu kita melihat bahwa kebutuhan contohnya Innova meningkat kemudian Avanza juga masih cukup lumayan karena memang kebutuhan fleet masih ada.

Untuk LCGC salah satunya adalah peningkatan dari presentasi atau komposisi dari pembeli mobil pertama ini. Memang ada pemingkatan jadi memang pembeli mobil pertama itu sebenarnya relatif kurang berkembang sejak LCGC sudah mature, tapi belakangan ini sejak covid presentase dari pembeli mobil pertama cukup meningkat tapi memang ada faktor lain, karena kebanyakan pembeli mobil LGCG adalah pembeli mobil pertama, mereka membutuhkan paket leasing yang DP nya murah, pembayaran pertamanya murah atau cicilannya murah.

Forwot: Sekarang banyak Low MPV yang bergaya low SUV, nah ini kalau dari Toyota ini melihatnya 5 sampai 10 tahun ke depan ada kemungkinan pergeseran dari low MPV murni ke tampilan yang low SUV, dan low MPV akan mulai di tinggalkan nggak?

Anton: Saya selalu mengatakan apa sih MPV apasih SUV, itu yang membuat kita-kita juga, jadi kalau saya tanya ke konsumen pembeli Rush sebenarnya mereka tidak melihat Rush itu sebagai SUV atau MPV, mereka melihat sebagai mobil 7 penumpang harga dan modelnya bagus dan mau beli.

Jadi kita memang yang mengkotak-kotakkan MPV dengan SUV itu, kadang-kadang dari diri kita sendiri. Konsumen memang lebih jeli meraka tidak terjebak di dalam jargon-jargon MPV atau SUV, yang mereka minta adalah model mana yang 7 penumpang yang bisa memberian akomodasi yang baik tapi kalau bisa modelnya lebih refresh lagi, salah satunya adalah stylish seperti model SUV. Memang kenapa ini salah satu kunci sukses dari model Rush selama 2 tahun belakangan ini tetap ada peningkatan demand.

Tapi di satu sisi, segmen yang tidak mementingkan styling atau model sebenarnya mereka hanya membutuhkan lebih ke fungsi atau value for money, nah bagi mereka adalah mana mobil yang bisa durability, kualitasnya, harganya dan juga perawatannya yang baik sehingga bagaimana pun Avanza modelnya boleh dibilang cukup lama dibandingkan dengan model-model kita yang lain, tapi dengan penyegaran kita di tahun lalu ternyata penerimaannya bisa bagus, bahkan market sharenya pun sempat turun di leve di 29 persen sekarang sudah naik lagi ke level 35 persen.

Memang bisa kita katakan tren SUV itu meningkat tapi belum bisa dikatakan SUV itu bisa mengalahkan MPV. Jadi kalau kita katakan MPV itu kan segmen komposisinya dulu kira-kira 45 sampai 50 persen sekarng masih ada di level 40 persen, SUV itu kira-kira levelnya mungin 15 sampai 20 persen, jadi MPV masih mendominasi kira-kira 2 kali lipat dari SUV. Ini bisa menggambarkan bahwa terjadi perubahan tapi belum bisa dikatakan perubahannya sampai MPV itu turun di bawah SUV.

Anton Jimmi (paling kiri) ketika launching digital New Agya

Forwot: Dengan Leasing sangat ketat, itu pengaruh nggak ke penjualan LCGC?

Anton: Seperti yang saya jelaskan tadi memang ini cukup berat ya buat pembeli mobil pertama. Apalagi untuk pembeli LCGC karena DP yang mereka harapkan boleh dibilang seminim mungkin. Kalau bisa ya DP 10 persen atau maksimal 20 persen itu yang mereka harapkan, tapi memang DP di angka-angka segini yang sekarang memang agak sulit mendapat persetujuan dari leasing, jadi yang saya degar itu biasanya DP 25 persen sampai 30 persen. Itu pun hanya di leasing tertentu seperti Toyota Astar Finace yang mensupport kita. Kalu leasing lain itu bahkan DP nya bisa 40 persen ke atas, jadi ini memang faktor yang mempengaruhi market demand dari LCGC. Karena market LCGC itu besar dan 70 persen itu pembeli pertama, kebanyakan pasti butuh leasing.

BACA JUGA  All-New Kia Seltos Jagoan Asal Korea di Kelas SUV, Berikut Fitur-Fiturnya

Forwot: Tentang GIIAS yang mundur begaimana?

Anton: Sebagai anggota GAIKINDO pasti akan ikut, cuma nanti kita akan lihat juga format GIIAS ke depannya akan seperti apa, dengar-dengar kan Oktober. Mudah-mudahan pada saat itu kondisi Covid sudah selesai karena bisa dibayangkan yang namanya pameran mengumpulkan banyak orang ratusan ribu orang biasanya datang. Memang saya rasa normal juga bagaimana cara masuknya, bagaimana cara pamerannya, pastinya kita akan kordinasi juga dengan GAIKINDO, bagaimana nanti formatnya dan kita pasti akan ikuti acara ini.

Forwot: Toyota baru saja meluncurkan New Agya, selama pandemi ini ada rencana Toyota melncurkan produk baru lagi? Atau menunggu momen normal atau saat GIIAS?

Anton: Kalau produk baru saya ngak bisa jawab detail kecuali ada Innova ambulans, tapi memang bukan produk baru. Tapi yang pasti pada saat kondisi seperti sekarang ini kita harus meriview lagi ya strategi kita dalam launching produk bagaimana, timing yang tepat dan juga cara yang tepat. Belajar dari pengalaman Agya kemarin saya rasa setelah covid atau mungkin setalah covid mereda pun rasanya kemasan dari digital communications rasanya akan menjadi salah satu pilar penting dalam launching.

Dulu digital adalah salah satu tambahan saja tapi kedepannya rasanya digital communications akan menjadi salah satu bagian penting atau mungkin bagian terbesar dari launching suatu produk baru. Saya rasa tidak bisa dihindari lagi. Semua merek saya rasa sama bahkan semua produk dari brand Eropa masuk sampai Tokopedia. Sabarlah, tahun ini kita merencanakan produk baru baik itu apakah perubahan atau dan lain sebagainya kita akan coba pelajari.

Forwot: Virtual launching kemarin apakah efektif feedbacknya?

Anton: Jujur kalau saya katakan ini mungkin masukan dari teman-teman media juga kalau saya katakan bisa menggantikan 1 persen rasanya ngak juga ya. Tapi setidaknya melihat dari situasi covid banyak hal positif juga yang kita terima, karena dengan adanya digital itu seluruh Indonesia bisa lihat termasuk diler kita, bahkan dari negara lain.

Tapi memang bagaimana pun kita kan jual produk fisik, mobil, banyak yang ingin lihat langsung megang langsung, test drive, nah ini yang tidak bisa kita lakukan kalau kita hanya virtual launching. Jadi kedepannya saya rasa kombinasi ini perlu.

Forwot: Soal strategi marketing, saat ini kan Toyota pakai sistem digital, nah kira-kira nanti setelah covid bakalan tren digital itu naik terus atau kembali lagi ke konservatif? Kalau ada kenaikan penjualan secara digital itu mobil apa dan segmen apa yang mengalami kenaikan?

Anton: Melihat dari situasi satu sampai dua bilan lagi saya rasa digital tidak bisa lepas dari dunai otomotif apalagi penjualan dan bahkan service. Jadi dulunya sebenarnya sudah banyak konsumen yang masuk ke dunia digital, tetapi ini kebanyankan segmen anak-anak muda yang biasa main gadget. Tapi sekarang pun yang umurnya 35 keatas 45 ke atas tetap bermain juga di dunia digital, saya rasa orang-orang yang dulunya ngak terbiasa dengan dunia digital sekarang sudah mulai terbiasa. Saya rasa kedepannya dunia digital tidak bisa dilepaskan lah dari pencarian informasi, komsunikasi dan lain.

Kalau model apa yang laku di dunia digital, mungkin gampangnya mobil-mobil yang orang sudah tahu, tak perlu lagi di cek fisiknya, tak perlu dlihat lagi, contohnya Avanza, dan Innova. Kemarin saya cek Auto2000 itu ada 14 orang bulan lalu beli mobil tidak ketemu muka, bahkan tidak ketemu mobil, jadi mulai dari masuk ke website sampai bayar DP dan delivery baru ketemu. 14 unit kelihatan kecil ya tapi bagi saya ini luar biasa sekali jalam dulu sebelum covid ngak kebayang orang beli mobil secara online. Saya rasa ini akan menjadi tren kedepan, tinggal untuk model-model baru atau orang-orang yang belum yakin harus lihat fisik dulu dan test drive atau kombinasi lah. Atau minimal mungkin kombinasinya kalau dulu digital cuma 20 persen, 30 persen sekarang mingkin bisa 40 sampai 50 persen tinggal datang ke diler, test drive sebentar, konfirmasi dan bayar DP.

Forwot: Apakah akan meng-SUV kan LCGC nya?

Anton: Intinya produk baru saya nggak bisa ngomong, tapi kita tahu persis bahwa segmen dibawahnya Rush itu adalah segmen yang menarik dan jujur juga banyak konsumen yang nanya. Apalagi setelah Tokyo Motor Show itu ada produk SUV kecil yang dikeluarkan Toyota-Daihatsu, tapi jujur saya belum bisa komentar yes or no. Tapi kita tahu segmen ini sangat menarik dan memang sangat serius kita pelajari juga dan hal ini sudah kita sampaikan kepada prinsipal. Jadi mungkin mudah-mudahan kedepannya kita bisa ada harapan untuk produk ini tapi kita belum bisa konsfirmasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here