Jorge Lorenzo: Valentino Rossi Itu Spesial Dan Dia Bisa Menang lagi

Mulai dari rival, rekan hingga tetap masih berteman. Foto: motogp.com

Jorge Lorenzo memuji Valentino Rossi jika pembalap 41 tahun tersebut masih bisa menang. Dan dia juga bercerita tentang masa lalunya di tim Honda dan Ducati.

Jorge Lorenzo berbicara tentang GP Austria 2018 kepada media DAZN, dimana itu adalah sebuah balapan yang tentu saja bukan kebetulan untuk tester Yamaha saat ini. Saat itu adalah kemenangan terakhir si Mallorcan di MotoGP dengan mengendarai Ducati, meskipun perjanjian dengan Honda telah ditandatangani. Sayang sekali bahwa cederanya saat di Aragon, mempersulit sisa musimnya.

Mungkin penyesalan terbesar dalam karirnya untuk Jorge Lorenzo adalah tidak diperbaruinya kontrak dengan tim Borgo Panigale (Ducati). “Dengan Yamaha saya bisa melaju cepat sejak awal. Dengan Ducati saya tidak memiliki kontinuitas itu, saya harus banyak beradaptasi dan saya tidak bisa mengendarainya secara alami. Jika saya melanjutkan di Ducati, mungkin saya bisa memenangkan gelar juara dunia,” kata Jorge.

Dia juga bercerita saat-saat bersaing dengan Marc Marquez, sang dominator MotoGP sejak 2013. “Dia memiliki bakat dan sangat cepat. Mungkin tidak memiliki kecepatan menikung terbaik, karena anda tidak bisa mendapatkan semuanya, tetapi sangat lengkap. Bertarung dengannya selalu sangat rumit. Dengan Ducati, saya mengerti bagaimana cara late braking karena motornya mampu,” cerita dia mengenang melawan Marquez dengan motor Ducati.

BACA JUGA  Ada Pembalap Baru Yang Nggak Suka Stoner di Honda Makanya Dia Keluar

Sangat disayangkan bahwa hubungan dengan Andrea Dovizioso tidak terjalin begitu baik di dua periode bersama Ducati. “Dari awal saya sangat antusias di dalam projek ini. Bukannya saya berpura-pura tapi saya senang ketika dia menang. Saya akan naik podium untuk merayakannya. Dovi, saya tidak tahu mengapa, mungkin dia memiliki dendam ketika gelar 250cc saya menangkan. Dia selalu menjaga jarak dengan saya dan saya menjadi sasaran serangan media dari sisinya,” ungkap Lorenzo.

Jorge Lorenzo saat masih di Ducati. foto: motogp.com

Belum lagi kritik atas kontrak yang etrlalu banyak untuk dirinya dari Ducati yakni 25 juta Euro dalam dua musim. Itu juga yang sempat dikritik oleh Giacomo Agostini. “Saya menganggap diri saya seorang juara. Dan itu sebabnya mereka memilih saya dan membayar jumlah itu. Saya adalah juara dunia 2015. Bukan perbedaan besar dengan apa yang saya dapatkan di Yamaha. Saya pergi ke Ducati untuk tantangan, tetapi saya juga tidak meninggalkan karena kontrak yang berkurang,” lanjutnya.

BACA JUGA  Sudah Pastikah Suzuki Kontrak Alex Rins?

Sekarang Jorge Lorenzo adalah pria yang dimiliki oleh Yamaha. Profesi pembalap penguji memungkinkannya untuk menikmati hidup, tetapi pada saat yang sama dapat kembali dengan motor MotoGP. Antara lain, motor prototipe paling utama yang memberinya kepuasan karir, serta gelar dunia. Tujuannya berubah dan kini kembali berhubungan dengan mantan saingannya, Valentino Rossi.

“Ini luar biasa, ini adalah sesuatu yang unik. Bertarung di MotoGP pada usia 41 atau 42 adalah prestasi besar yang tidak dimiliki siapa pun. Jika dia memiliki perasaan yang lebih baik pada motornya dia bisa memenangkan balapan lagi, saya sangat percaya. Dia sangat siap secara fisik, tetapi Yamaha tidak perlu pembalap yang buas untuk menjadi kompetitif,” jelas Lorenzo yang sempat heboh saat berkunjung ke Indonesia awal tahun di Bali bersama Nikita Mirzani.

BACA JUGA  Apa yang Dirasakan Pembalap Top MotoGP saat Akan Start Balap

Namun Valentino Rossi secara tidak langsung yang menyebabkannya harus berpisah dengan Yamaha pada akhir musim MotoGP 2016. “Kekuatan media memang terbukti. Saya tahu kalau Yamaha akan selalu memiliki bahan terbaik. Saya tidak pernah mengeluhkannya,” tegas Lorenzo.

Lalu bagaimana cara untuk mengalahkan Marc Marquez? “Kamu harus lebih cepat darinya dan jangan membuat kesalahan. Dia harus menjadi orang yang seharusnya mengambil risiko. Memiliki motor yang terbaik, menjadi mental lebih siap. Seperti pada 2015, itu lebih eksplosif lagi, tetapi saat itu kami unggul dalam perlombaan dan harus mengambil risiko. Inilah yang harus dilakukan Quartararo atau Viñales. Tapi sekarang Marquez masih yang tercepat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here